4 Destinasi Wisata di Kota Malang, Rekomendasi Untuk Belajar Sejarah

Malang merupakan dataran tinggi dengan luas mencapai 142,28 kilometer persegi, memang di kota ini tidak salah digunakan untuk tepat liburan para wisatawan. 

Mayoritas, destinasi alam di wilayah ini, hampir seluruhnya berada di Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Hal itu, membuat Kota Malang memperbaiki dan menawarkan konsep pariwisata yang berbeda, yaitu melalui kampung tematik yang sukses menjadi panggung wisata di Kota Malang. Pembukaan kampung tematik ini, telah disetujui oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, selama protokol kesehatan menangani Covid-19 diterapkan dengan baik dan juga harus memenuhi kesiapan menerapkan aplikasi Peduli Lindungi pada setiap destinasi wisata.

Sandiaga Uno mengatakan, silahkan mengajukan kepada kami untuk pembukaan kampung tematik, kami akan melakukan uji coba. Namun, kita juga harus menerapkan protokol kesehatan dan berpariwisata dengan tanggung jawab.

Sementara itu, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) menjelaskan, selama Januari hingga Juni 2022, ada sekitar 5,9 juta wisatawan yang sudah berwisata di Kota Malang. Dari jutaan pengunjung, banyak wisata mancanegara menikmati berbagai tempat bersejarah. Hal ini, dapat membangkitkan semangat warga dan Pemerintah Kota Malang, untuk menjadikan wisata sejarah sebagai pilihan destinasi wisata baru yang bisa diunggulkan.

Baca Juga  Rekomendasi Lontong Kupang di Surabaya

Lantas, destinasi wisata sejarah di Kota Malang mana yang bisa membuatmu melihat sejarah?

Stasiun Kota Baru Malang. Foto: Surya Malang

  1. Stasiun Kota Baru

Lokasi ini, didirikan pada kolonial Belanda, konsep yang diambil memang mirip seperti kota-kota di Benua Eropa. Hal ini, membuat arsitek Kota Malang saat itu, Ir. Herman Thomas Karsten, memindahkan stasiun lama (Stasiun Kota Lama) ke arah barat dengan pusat kota di tahun 1927.

Desain tersebut, diterapkan oleh Lands Gebouwen Dienst, lalu gedung baru itu, disebut Stasiun Kota Baru. Dengan gaya arsitektur kolonial modern, yaitu berbentuk kubus berwarna putih dengan beton yang kuat akan ledakan bom, serta atap yang didesain datar dan gevel berbentuk horizontal.

Berdirinya Stasiun tersebut, saat terjadinya Perang Dunia II yang melanda Indonesia, maka dibangunlah terowongan penghubung di Stasiun Kota Baru untuk menghindari serangan udara.

Di depan Stasiun Kota Baru, juga terlihat Monumen Juang 45 yang berdiri sejak 20 Mei 1975. Monumen itu berukuran 10×40 meter, dan disimbolkan sebagai patriotisme arek Malang.

Bentuk Monumen ini, menyerupai raksasa Butho yang jatuh di sekitar 19 patung-patung kecil. Hal ini, melambangkan, Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari penjajah.

Alun-alun Tugu Malang. Foto: Pegipegi

  1. Alun-Alun Tugu
Baca Juga  Meskipun Pandemi, Taman Mundu Surabaya Tetap Ramai Pengunjung

Berjarak 300 meter dengan Stasiun Kota Baru, alun-alun ini, dibangun oleh Krasten yang menjadi bangunan penghormatan kepada Gubernur Pemerintahan Hindia Belanda, Jenderal Pieter Zoen Coen.

Pakar sejarah Universitas Negeri Malang, R. Reza Hudiyanto mengatakan, dalam video Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Malang, ada tiga struktur bagian pada monumen Tugu ini, Pertama adalah bambu runcing, yang dilambangkan sebagai simbol perlawanan. Kedua, bentuk relief di bagian tengah yang pada sisinya terdapat ukiran lima pulau besar di Indonesia. Sementara, pada bagian ketiga adalah penopang dasar yang berbentuk bunga teratai. Di bawah bentuk ketiga ini, terdapat anak tangga berbentuk persegi empat dengan lima sudut yang memiliki tingkat dan 17 pondasi sebagai lambang tanggal kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945.

Kayu Tangan Malang. Foto: Inews

  1. Kayutangan

Kawasan Kayutangan, berjarak sekitar 550 meter dari Alun-alun Tugu dengan melewati Jalan Majapahit. Lokasi ini, menjadi koridor utama Kota Malang, dan pernah menjadi pusat perdagangan saat era kolonial Belanda.

Sekarang, lokasi ini merupakan cagar budaya yang menyimpan banyak landmark bersejarah. Seperti bangunan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus yang berdiri sejak 1905, rumah makan bersejarah Toko Oen yang pernah jadi tempat istirahat peserta kongres Komite Nasional Indonesia Pusat tahun 1947, bagunan kembar yang dibangun tahun 1936, dan termahsyur sebagai perempatan Rajabally, sampai gedung tua kantor PLN Kota Malang.

Baca Juga  Destinasi Wisata di Trawas Yang Wajib di Kunjungi

Guna meningkatkan wisatawan, Pemkot Malang menetapkan lokasi ini menjadi Kampoeng Heritage Kajoetangan. 

Ada beberapa lokasi foto yang cocok bagi instagramable dengan menelusuri perkampungan kecil. Seperti rumah 1870, Rumah Mbah Ndut, Rumah Jengki, Rumah Jamu, hingga makam Eyang Honggo Kusumo. 

Ijen. Foto Tugu Malang ID

  1. Ijen

Wisata sejarah lainnya di Kota Malang adalah Jalan Besar Ijen atau Idjen Boulevard yang berada di daerah Oro-Oro Dowo. Lokasi ini, dirancang oleh Karsten. Idjen Boulevard sendiri, adalah bagian kelima dan dibangun sejak 1935, hingga 1960-an.

Selain menampilkan rumah-rumah mewah, ada juga monumen bersejarah di Kota Malang. Mulai dari Hamid Rusdi sang pahlawan asli Malang di taman Simpang Balapan, Katedral Ijen yang bergaya kolonial belanda, monumen Kadet Suropati yang menyerupai bunga melati tepat di Museum Brawijaya, hingga gedung Puskot (Perpustakaan Kota) Malang di persimpangan Jalan Ijen yang dibangun oleh OPS Rokok Kretek pada tahun 1965.

Itulah beberapa destinasi wisata yang bisa menjadi rekomendasi sekaligus belajar tentang sejarah di Kota Malang.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *