Survei Yatim Piatu, Berikan Pelajaran Tentang Kehidupan dan Perpisahan

Pak Sutrisno, saat berada ditempat tinggalnya yang merupakan warung kopi. Foto: ariefrahardjo.com

Kementerian Sosial beberapa waktu yang lalu memberikan instruksi kepada para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) untuk melakukan pendataan Yatim Piatu. 

Saat ini, saya yang juga sebagai Administrator Pangkalan Data (APD) di PKH Kota Surabaya, turut melakukan verifikasi data tersebut.

Pengalaman saya saat melakukan survei, mayoritas orang dengan perekonomian rendah, sedangkan pada data tersebut, ditemukan yatim piatu yang sangat membutuhkan uluran tangan dari pemerintah. Bahkan, ada juga sebagai korban perceraian.

Pengalaman saya lainnya, terdapat target survei yang tinggal di dalam warung yang terbuat dari gerobak dan alamat dari warung yang bisa dikatakan tidak memadai itu, sudah terdapat kartu keluarga, artinya warung tersebut sudah memiliki alamat.

Disana, saya sempat kebingungan mencari alamat tersebut, sebab tidak ada bangunan, dan alamatnya pun berbeda. 

Setelah bertanya ke penduduk sekitar, akhirnya pemilik toko kelontong menunjukkan sebuah warung berwarna biru, dengan alamat yang sudah menjadi tujuan saya.

Lokasi tempat tinggal Pak Sutrisno, yang sudah memiliki alamat pada Kartu Keluarga. Foto: Ariefrahardjo.com

Saya sempat heran, dan berpikir ‘apa ini benar’, sepetak toko mungkin ukuran 4 meter persegi itu alamatnya.

Baca Juga  Nikmati Liburan Bersama Keluarga di Narita Hotel Surabaya

Akhirnya saya datangi warung tersebut dan menanyakan, “apakah benar warung ini dengan alamat xxx (disamarkan)?”

“Benar mas, alamat itu benar disini,” tanggap pemilik warung yang diketahui bernama Sutrisno ini.

Selanjutnya, saya pun bertanya, apakah benar ini rumah adik kelvin (dimana nama tersebut merupakan target survey saya)?

“Benar mas itu cucu saya, anaknya sekolah pun disini,” katanya sambil menunjukkan kartu keluarga.

Lantas, saya pun melakukan pendataan, dan berfikir ‘kok bisa ya, warung seperti ini bisa memiliki alamat’.

Kemudian, saat proses survey berlangsung dan saya saat itu melakukan pengisian data, saya juga berusaha ‘kepo’ (ingin tahu) bagaimana dengan listriknya.

“Kalau terkait listrik, bagaimana pak,” tanya saya kepada pak Sutrisno.

Iya pun menjawab, bahwa listrik yang ia gunakan, ikut dengan meteran pos kamling dan ia juga memberikan pendapatannya yang sebagai penjaga warung itu, untuk membayar listrik.

Daripada saya penasaran, saya juga bertanya keperluan ke kamar mandinya seperti apa.

Baca Juga  Website Terkena Malware, Jangan Khawatir Lakukan Langkah ini

“Kalau kamar mandi saya ikut toko kelontong depan itu mas, orangnya baik, nyuruh saya untuk gunakan kamar mandinya,” katanya.

Pak Sutrisno pun bercerita, bahwa cucunya yang terdapat pada pada list survei saya, sudah dirawat sejak usia 8 bulan. Dan saat ini, cucunya tersebut sudah berusia 5 tahun.

Sejak di usia 8 bulan itu lah, cucu pak Sutrisno ini, sudah berstatus sebagai piatu, karena sang ibu sudah meninggal dunia.

“Sejak usia 8 bulan, si cucu sudah saya rawat karena ibunya meninggal dunia,” tuturnya.

Setelah pertanyaan-pertanyaan tentang data survei yang saya berikan kepada pak Sutrisno, saya pun mengajak beliau untuk foto bersama. 

Salah satu responden survei yang saya lakukan.

Di tempat survei yang berbeda, juga terdapat salah satu anak yang berusia sekitar 14 tahun dan 13 tahun.

Kedua anak ini, dulunya tinggal di Palembang, dikarenakan terlantar dan tidak terawat oleh kedua orang tuanya, akhirnya kedua anak ini, diasuh oleh bibinya.

Singkat cerita, kedua anak ini pernah menjadi anak jalanan, bahkan kedua anak ini sempat ingin putus sekolah, karena menurutnya, kehidupannya sudah kacau.

Baca Juga  Meskipun Pandemi, Taman Mundu Surabaya Tetap Ramai Pengunjung

Saat melakukan survei, saya menemui bibinya bernama Marsuti, yang sekaligus merawatnya dan menyekolahkannya.

Ibu Marsuti awalnya tidak percaya, bahwa data kedua anak yang bernasib malang ini, mendapatkan perhatian dari pemerintah. Bahkan, ibu ini merasa senang, saat saya mengatakan, bahwa kedua anak ini masuk dalam data survei yang saya lakukan.

“Saya ini sebetulnya tidak percaya adanya survei seperti ini, namun masnya menjelaskan dan menunjukkan maksud dan tujuannya, dan juga diperkuat dengan data yang diberikan merupakan kedua anak saudara saya, saya pun percaya dan berterima kasih kepada pemerintah,” kata Marsuti.

Ia menjelaskan, kedua anak ini sempat menjadi anak jalanan yang tidak memiliki harapan, ditambah kehidupan di Palembang, membuatnya hidupnya semakin kacau.

“Saya ambil anak ini untuk tinggal bersama kami, dan saya sekolahkan. Bahkan anak ini, juga sempat menjadi pengamen,” tuturnya.

Dirinya pun berharap, jika pemerintah memberikan bantuan, akan dimanfaatkan sebaik mungkin. Sebab, ia meyakini, bahwa anak ini memiliki potensi.

Dari hasil saya terjun ke lapangan, ternyata bisa saya simpulkan, ketika anak kita kehilangan orang tuanya, mereka pun bingung dan tak terarah kehidupannya, apalagi kehilangan orang tua akibat perceraian. Membuat mereka semakin tersiksa dan menjadikan anak-anak kita bingung kemana dirinya akan melangkah.

Share